Rabu, 15 Januari 2014

GURU YANG BERKARAKTER

 GURU YANG BERKARAKTER”

Oleh : Misbakhul Munir

Abstrak

Para samurai memiliki dua hal yaitu Wasa dan Do. Wasa artinya skill sedangkan do artinya The way of life (prinsip hidup) yang dikenal dengan Bushido. Para samurai memiliki senjata yang disebut Katana atau pedang. Pedang yang tajam tentu mengerikan jika digunakan oleh orang yang tidak berkarakter (bermoral). Pedang menjadi tidak berbahaya ketika pemegangnya mempunyai sifat yang disebut Bushido, yaitu amanah, pengasih,santun, sopan, mulia, hormat, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan ibarat pedang yang siap membinasakan. Jika ilmu tersebut dikuasai oleh orang tetapi tanpa didasari penanaman moral, yang terjadi ialah terjadinya hal yang tidakdiinginkan. White phospor yang mematikan mematikan jutaan anak-anak di palestina adalah ilmu fisika tanpa nurani. Banyaknya orang yang orang yang bersalah dibebaskan dari hukum pidana, adalah karena orang yang menguasai ilmu hukum tidak disertai dengan sifat keadilan. Celakanya sistem pendidikan kita umumnya hanya memberikan ilmu-ilmu tanpa pendidikan moral. Hal ini serupa dengan belajar ilmu pedang tanpa Bushido.

Kata Kunci : ilmu pengetahuan, karakter(mora)l, guru

A.                Pendahuluan
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU RI NO 14 Tahun 2005). Sedangkan karakter Secara harfiyah artinya sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.(kamus besar bahasa indonesia, kamisa 1997 hal. 281).
            Menurut Simon Philips dalam buku Refleksi Karakter Bangsa (2008:235), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan prilaku yang ditampilkan. Sementara itu Koesoema A (2007:80) menyatakan bahwa karakter sama dengan kepribadian. Karakter dianggap sebagai karateristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir. Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga kita muncul tidak perlu dipikirkan lagi.
            Dari beberapa pernyataan tersebut dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlaq atau budipekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan individu dengan yang lain. Dengan demikian, dapat dikemukakan juga bahwa karakter pendidik adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlaq atau budi pekerti pendidk yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat pada diri seorang pendidik.
            Seseorang bisa dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga seorang pendidik, ia bisa dikatakan berkarakter jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik.
B.     Pendidik Yang Berkarakter
Dengan demikian pendidik yang berkarakter dapat diartikan ia yang memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat jujur, amanah, keteladanan, ataupun sifat terpuji lainnya yang harus melekat pada diri seorang pendidik. Pendidik yang berkarakter kuat tidak hanya memiliki kemampuan mengajar (mentransfer ilmu kepada peserta didik) melainkan ia juga memiliki kemampuan mendidik dalam cakupan yang luas.
Seseorang bisa saja dihormati karena kedalaman ilmu dan keluasan wawasannya atau bisa saja kita kagum pada profesi kita, setiap hari mengajar lalu menyusun program pembelajaran untuk esok hari. Tapi Tuhan tidak menilai perbuatan manusia dari lahirnya, namun dari sesuatu yang tersembunyi dan lebih utama yaitu dari niat dan motivasinya.
Pada dasawarsa terakhir ini, beberapa guru berbondong-bondong memaksakan diri untuk menempuh bangku kuliah. Apa yang mereka cari? Sebagian dari mereka melakukannya hanya demi satu kata yakni “sertifikasi”. Atau ada seorang guru dengan tidak merasa berdosa menyatakan alasan mengajar karena “daripada menganggur di rumah”, bukan berniat untuk mengamalkan ilmu karena Allah SWT semata. Ironis sekali!
Dalam melakukan segala sesuatu, hendaknya berlandaskan niat yang tulus dan ikhlas. Kembalikan semua ke niat awal yang suci. Perkara memperoleh hasil yang lebih dari apa yang telah dilakukan, anggaplah itu sebagai hadiah dari Tuhan. Berlaku ikhlas memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa melakukannya.
Guru adalah profesi yang mulia, mendidik dan mengajarkan pengalaman baru bagi anak didiknya. Jika seorang guru menjalankan profesinya dengan tulus dan ikhlas, maka guru tidak akan “menuhankan” materi tetapi karena Allah SWT semata, selalu menjalankan kewajibannya, mencintai pekerjaannya, selalu produktif, mencintai anak dan bersahabat dengan anak serta menjadi teladan bagi anak didiknya, dan mudah beradaptasi dengan perubahan. Dan yang lebih utama, niat yang tulus merupakan pondasi yang kuat dalam membangun karakter anak didik kita.