"Dunia adalah sebuah buku, mereka yang tidak berpetualang hanya membaca satu lembar saja"
Kamis, 20 Maret 2014
Rabu, 15 Januari 2014
GURU YANG BERKARAKTER
“GURU YANG BERKARAKTER”
Oleh : Misbakhul Munir
Abstrak
Para samurai memiliki dua hal
yaitu Wasa dan Do. Wasa artinya skill
sedangkan do artinya The way of life (prinsip hidup) yang
dikenal dengan Bushido. Para
samurai memiliki senjata yang disebut Katana
atau pedang. Pedang yang tajam tentu mengerikan jika digunakan oleh
orang yang tidak berkarakter (bermoral). Pedang menjadi tidak berbahaya ketika
pemegangnya mempunyai sifat yang disebut Bushido,
yaitu amanah, pengasih,santun, sopan, mulia, hormat, dan lain-lain. Ilmu
pengetahuan ibarat pedang yang siap membinasakan. Jika ilmu tersebut dikuasai
oleh orang tetapi tanpa didasari penanaman moral, yang terjadi ialah terjadinya
hal yang tidakdiinginkan. White
phospor yang mematikan mematikan jutaan anak-anak di palestina adalah
ilmu fisika tanpa nurani. Banyaknya orang yang orang yang bersalah dibebaskan
dari hukum pidana, adalah karena orang yang menguasai ilmu hukum tidak disertai
dengan sifat keadilan. Celakanya sistem pendidikan kita umumnya hanya memberikan
ilmu-ilmu tanpa pendidikan moral. Hal ini serupa dengan belajar ilmu pedang
tanpa Bushido.
Kata Kunci : ilmu pengetahuan, karakter(mora)l, guru
A.
Pendahuluan
Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah (UU RI NO 14 Tahun 2005). Sedangkan karakter Secara harfiyah artinya sifat-sifat kejiwaan,
akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat,
watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.(kamus besar
bahasa indonesia, kamisa 1997 hal. 281).
Menurut Simon
Philips dalam buku Refleksi Karakter Bangsa (2008:235), karakter adalah
kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran,
sikap dan prilaku yang ditampilkan. Sementara itu Koesoema A (2007:80)
menyatakan bahwa karakter sama dengan kepribadian. Karakter dianggap sebagai karateristik
atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari
bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa
kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir. Imam Ghozali menganggap bahwa
karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap
atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga kita muncul tidak
perlu dipikirkan lagi.
Dari beberapa pernyataan tersebut dapat
dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral,
akhlaq atau budipekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang
membedakan individu dengan yang lain. Dengan demikian, dapat dikemukakan juga
bahwa karakter pendidik adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlaq atau
budi pekerti pendidk yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat pada
diri seorang pendidik.
Seseorang
bisa dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan
yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam
hidupnya. Demikian juga seorang pendidik, ia bisa dikatakan berkarakter jika ia
memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta
digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang
pendidik.
B. Pendidik
Yang Berkarakter
Dengan
demikian pendidik yang berkarakter dapat diartikan ia yang memiliki kepribadian
yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat jujur, amanah,
keteladanan, ataupun sifat terpuji lainnya yang harus melekat pada diri seorang
pendidik. Pendidik yang berkarakter kuat tidak hanya memiliki kemampuan
mengajar (mentransfer ilmu kepada peserta didik) melainkan ia juga memiliki
kemampuan mendidik dalam cakupan yang luas.
Seseorang bisa saja dihormati
karena kedalaman ilmu dan keluasan wawasannya atau bisa saja kita kagum pada
profesi kita, setiap hari mengajar lalu menyusun program pembelajaran untuk
esok hari. Tapi Tuhan tidak menilai perbuatan manusia dari lahirnya, namun dari
sesuatu yang tersembunyi dan lebih utama yaitu dari niat dan motivasinya.
Pada dasawarsa terakhir ini,
beberapa guru berbondong-bondong memaksakan diri untuk menempuh bangku kuliah.
Apa yang mereka cari? Sebagian dari mereka melakukannya hanya demi satu kata
yakni “sertifikasi”. Atau ada seorang guru dengan tidak merasa berdosa
menyatakan alasan mengajar karena “daripada menganggur di rumah”, bukan berniat
untuk mengamalkan ilmu karena Allah SWT semata. Ironis sekali!
Dalam melakukan segala sesuatu,
hendaknya berlandaskan niat yang tulus dan ikhlas. Kembalikan semua ke niat
awal yang suci. Perkara memperoleh hasil yang lebih dari apa yang telah
dilakukan, anggaplah itu sebagai hadiah dari Tuhan. Berlaku ikhlas memang tidak
mudah, namun bukan berarti tidak bisa melakukannya.
Guru adalah profesi yang mulia,
mendidik dan mengajarkan pengalaman baru bagi anak didiknya. Jika seorang guru
menjalankan profesinya dengan tulus dan ikhlas, maka guru tidak akan
“menuhankan” materi tetapi karena Allah SWT semata, selalu menjalankan
kewajibannya, mencintai pekerjaannya, selalu produktif, mencintai anak dan
bersahabat dengan anak serta menjadi teladan bagi anak didiknya, dan mudah
beradaptasi dengan perubahan. Dan yang lebih utama, niat yang tulus merupakan
pondasi yang kuat dalam membangun karakter anak didik kita.
Langganan:
Komentar (Atom)
